Langsung ke konten utama

YUMMY (2019), Horor Komedi Yang Ngehek Banget

Siapa sih yang nyangka kalo film kelas B minim budget yang menampilkan zombie, operasi plastik, payudara besar, dan humor slapstick bisa begitu menggairahkan?

Baiklah, kawan-kawan. Akan saya perkenalkan anda dengan “Yummy”.

Yummy (2019)

Director: Lars Damoiseaux

Stars: Maaike Neuville, Bart Hollanders, Benjamin Ramon, Clara Cleymans


Gw gak akan mengurutkan kejadian film ini dari awal hingga akhir, hanya membagikan kepada kalian pengalaman gw menonton film ini.

Yummy adalah film original Shudder, menyusul Monstrum, Confessional and that Scream, dan dokumenter Queen (gw belum nonton ketiganya).

Bagaimana ya cara terbaik untukĺ mendeskripsikan film Yummy? 

Setelah gw pertimbangkan dengan singkat, menurut gw tagline di poster sudah merangkum semua hal yang perlu diketahui tentang film ini - “Facelift, boob jobs, and….zombies!” (walaupun "Boobs" dalam film ini tidak benar-benar sungguhan, itu hanya bra dengan tambahan busa tebal aja).

Gak ada hal-hal baru yang ditawarkan dalam film ini. Semua aturan biasa dalam film zombie, dari karakter yang bertingkah bodoh, hingga karakter brengsek, ada di sini. Yummy adalah kisah yang menawarkan pembantaian, dan, ya, hanya itu aja menurut gw setelah menonton. Yummy akan memicu jantung kalian selama 90 menit dengan menyajikan adegan-adegan yang gak enak dilihat bagi penonton. Kecuali jika kalian menganggap hal-hal seperti memakan isi perut sendiri, seorang anak membacok kepala ibunya, serta memasukan lengan ke dalam mesin pemotong kertas dalam keadaan sadar adalah hal yang umum dilakukan. Film ini secara gak langsung memberi penghormatan kepada master splatstick seperti Sam Raimi, Peter Jackson, dan bahkan Troma.

Konflik utama film ini adalah tentang Alison (Maaike Neuville), dan Michael (Bart Hollanders) yang berusaha untuk bertahan hidup dan melarikan diri dari rumah sakit di daerah terpencil eropa timur. Ditambah adanya cinta segitiga yang muncul secara konsisten yang menjadi konflik kecil di dalam film. Staf rumah sakit, Daniel (Benjamin Ramon), seorang pecandu narkoba yang sama-sama bertanggung jawab atas wabah tersebut berusaha menjadikan dirinya pilihan yang lebih aman bagi Alison dibanding kekasihnya sendiri, Michael, yang menderita derita hemofobia (ketakutan berlebih akan darah). Padahal, saya rasa hemofobianya Michael ada hanya untuk menambah lelucon yang menyinggung kata homofobia. Yummy secara konsisten mengolok-olok payudara besar Alison, ketidakmampuan praktek rumah sakit murahan di eropa timur, dan situasi serangan zombie yang konyol. Perjuangan Ketiga karakter tersebut dimainkan dengan sangat serius, menciptakan keseimbangan aneh antara horror dan komedi.

Jika kalian suka humor-humor yang gelap, gw rasa di film ini kalian akan cukup puas. ada satu adegan seorang pasien yang sedang menjalani sedot lemak dengan mesin, namun secara tidak sengaja dibalik menjadi ledakan ekstra lemak karena kepanikan di tengah serangan zombie. Di tempat lain ada adegan yang sangat mengilukan di mana seorang pria yang gak sengaja mencopot penisnya yang baru saja dioperasi. Oke, mungkin itu gak terlalu lucu, gw hanya mnggambarkan sedikit aja, sebenarnya masih banyak momen humor konyol menjijikkan lain di film ini. Namun gw rasa yang paling konyol adalah saat Michael yang menderita hemofobik menghabiskan sebagian besar adegan film ini dengan lumuran darahnya sendiri, dan darah orang-orang.       

 

Zombie di film ini agak mirip zombie gaya Romero / Savini klasik, dengan efek yang menurut gw cukup memuaskan. Ada beberapa zombie yang bener-bener bjkin ngeri, terutama zombie wanita tanpa kaki yang menunjukkan kelincahan hanya dengan kedua tangannya buat bergerak kesana kemari. Pada momen tersebut film ini sepertinya udah tidak masuk akal, tapi gqk masalah, karena hal tersebut malah menjadi sebuah mahakarya untuk segi hiburan yang berdarah-darah. Disamping itu, sang sutradara melakukan semua dalam film ini dengan biaya yang murah, hal tersebut membuktikan bahwa gak memerlukan banyak efek CGI untuk membuat film horor yang efektif. Tentu, zombie (buat gw) bukanlah makhluk paling menakutkan di dunia. Tapi dalam film ini mereka sukses membuat penonton merasa ngeri dengan mengantar kalian ke adegan demi adegan berlumuran darah yang sungguh epik.

 

Meskipun film ini mengusung genre horror dan komedi jenis slapstick dengan tambahan darah yang berceceran. Namun seiring berjalannya film, komedi pun mulai agak berkurang. Agar adil, gw asa film ini lebih condong ke sisi yang pertama (horror). Jujur aja leluconnya kadang salah tempat. Ini adalah film cepat yang berdurasi 90 menit, jadi gw gak bisa melihat sebuah cerita mendalam, asal-usul para tokoh yang ada, atau adegan yang meninggalkan banyak kesan. Tapi yang ada di otak gw saat nonton ini adalah film ini sangat amat menyenangkan.

Dalam hal ongkos, Yummy terasa berada di belakang film-film lain, gak menjelajahi area baru dalam sub-genre, dan tampaknya juga gak tertarik untuk mencoba. Dengan kata lain, gak ada apa pun di sini yang membuat Damoiseaux menonjol dari sutradara yang lain atau membuatnya berkesan setelah begitu banyak film zombie sebelumnya. Sebaliknya, beliau hanya ingin menawarkan kejar-kejaran yang menyenangkan, serta pertumpahan banyak darah dalam waktu yang cepat.

Namun begitu, ada hal Anehnya juga, untuk film yang menonjolkan tentang payudara, kalian gak melihat banyak payudara di sini. Sindiran tentang payudara emang ada, tapi gak ada yang secara eksplisit memamerkannya. Satu lagi, Yummy gak akan menyenangkan hati siapa pun yang gak menyukai jenis film eksploitasi. Meski begitu, saya jamin, film ini sungguh sebuah hiburan yang menyenangkan.


Komentar