Langsung ke konten utama

Tetsuo: The Iron Man (1989) - Japanese body horror yang super aneh



Film jepang sering kali menjadi pelopor bagi hal-hal aneh. Lo pasti pernah lihat kumpulan cuplikan film horor jepang yang bener-bener aneh, dan sangat mengganggu secara visual. Salah satu yang menjadi pelopor film tersebut (mungkin) adalah Tetsuo: The Iron Man.

Dirilis pada tahun yang sama dengan film Society karya Brian Yuzna, yang juga menggabungkan tema body horror, dan seksualitas yang aneh ke dalam sebuah pesta visual menjijikan dalam film. Kebalikan dari Society dar Yuzna, Tetsuo: The Iron Man adalah industrial-punk yang seakan menyerang film dari Yuzna yang lebih mengusung tema opera bagi kelas sosial-Amerika.

Tetsuo: The Iron Man adalah film horor dari jepang garapan Shinya Tsukamoto, berkisah tentang Seorang pria aneh yang merupakan seorang Metal Fetishist, yang  memiliki dorongan gila untuk menempelkan besi-besi ke dalam tubuhnya. Scene pertama yang gw lihat dalam film ini terasa seperti representasi (kasar) dari transhumanisme, seorang pria yang tidak disebutkan namanya (disebut sebagai Metal Fetishist) memasukkan potongan logam ke dalam luka di kakinya, kemudian memasukkan sekrup di antara giginya, yang seakan mengisyaratkan perpaduan antara logam dan daging. sedikit ironis, dimana sang Metal Fetishist ini kemudian mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil. Dibunuh oleh mesin.

Ini adalah kebalikan dari cita-cita utopis transhumanisme, di mana alih-alih manusia menggunakan teknologi sebagai cara untuk memajukan kehidupan mereka, disini yang terjadi malah sebaliknya. 

Tetsuo memaksakan perpaduan yang agak nyeleneh antara biologi dan teknologi melalui penggambaran seksualitas mengerikan yang muncul akibat terinfeksi virus Metal Fetishist. Pada satu adegan, penis Tetsuo berubah menjadi bor saat melakukan hubungan seks dengan sorang wanita. Sungguh mengerikan, untungnya film ini menggunakan lensa monochrome, ya walaupun mengurangi kenikmatan visual dari darah yang berceceran, meski begitu menjadikan film ini terasa sangat Industrial.

Menggabungkan visual sinema surealis dengan film-film milik David Cronenberg, David Lynch, dan sedikit nuansa gotik ala H.R. Giger, film ini memiliki sangat sedikit sekali dialog dan plot cerita yang cukup aneh. Sebuah sinema eksperimental yang  mengerikan juga absurd. Selanjutnya, untuk practical effects pada film ini cukup oke sih gw rasa, dengan campuran tekno-industrial yang memusingkan, dengan gaya pengeditan video yang super cepet, cukup untuk membuat pengalaman sinematik yang unik. 

Setelah menonton film ini, mungkin lo bakal berkata dengan kebingungan: "apa yang baru aja gw lihat". dan gw cukup bangga, gw menjadi salah satu orang yang mengalami hal itu.

Fakta bahwa film ini melahirkan dua sekuel lain adalah satu hal yang perlu diapresiasi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Come and See (1985), Film Yang Membuat Penonton Trauma

  Come  and see (1985) Director: Elem Klimov Country: Soviet Union (Rusia) "Pengalaman perang yang  realistis , muram, dan  menyedihkan , Come and See adalah salah satu film yang tidak akan pernah kalian lupakan." Film yang dirilis untuk menandai 40 tahun kemenangan Tentara Merah atas Nazi Jerman. Aksi tersebut terjadi di pedesaan Belarusia yang saat itu masih bernama Socialist Soviet Republic of Byelorussia di mana sang protagonis Flyora (Aleksey Kravchenko), diwajibkan oleh partisan untuk terjun langsung dalam perang melawan Jerman di desa-desa setempat. Mengikuti tradisi realis-sosialis yang menggambarkan anak-anak yang berperang, penonton pun dijadikan sasaran trauma yang dialami oleh Flyora saat ia berubah dari remaja nakal, menjadi pemuda yang depresi. Jujur saja, sebenarnya plot film ini sangat sederhana, Pada tahun 1943, seorang remaja laki-laki bernama Flyora di Belarusia berangkat untuk bergabung dengan para partisan dalam perang melawan Nazi Jerman selama...

YUMMY (2019), Horor Komedi Yang Ngehek Banget

Siapa sih yang nyangka kalo film kelas B minim budget yang menampilkan zombie, operasi plastik, payudara besar, dan humor slapstick bisa begitu menggairahkan? Baiklah, kawan-kawan. Akan saya perkenalkan anda dengan “Yummy”. Yummy (2019) Director: Lars Damoiseaux Stars: Maaike Neuville, Bart Hollanders, Benjamin Ramon, Clara Cleymans Gw gak akan mengurutkan kejadian film ini dari awal hingga akhir, hanya membagikan kepada kalian pengalam an  gw menonton film ini. Yummy adalah film original Shudder, menyusul Monstrum, Confessional and that Scream, dan dokumenter Queen (gw belum nonton ketiganya). Bagaimana ya cara terbaik untukĺ mendeskripsikan film Yummy?  Setelah gw pertimbangkan dengan singkat, menurut gw tagline di poster sudah merangkum semua hal yang perlu diketahui tentang film ini - “Facelift, boob jobs, and….zombies!” (walaupun " Boobs" dalam film ini tidak benar-benar sungguhan, itu hanya bra dengan tambahan busa tebal aja). Gak ada...