Dirilis pada tahun yang sama dengan film Society karya Brian Yuzna, yang juga menggabungkan tema body horror, dan seksualitas yang aneh ke dalam sebuah pesta visual menjijikan dalam film. Kebalikan dari Society dar Yuzna, Tetsuo: The Iron Man adalah industrial-punk yang seakan menyerang film dari Yuzna yang lebih mengusung tema opera bagi kelas sosial-Amerika.
Tetsuo: The Iron Man adalah film horor dari jepang garapan Shinya Tsukamoto, berkisah tentang Seorang pria aneh yang merupakan seorang Metal Fetishist, yang memiliki dorongan gila untuk menempelkan besi-besi ke dalam tubuhnya. Scene pertama yang gw lihat dalam film ini terasa seperti representasi (kasar) dari transhumanisme, seorang pria yang tidak disebutkan namanya (disebut sebagai Metal Fetishist) memasukkan potongan logam ke dalam luka di kakinya, kemudian memasukkan sekrup di antara giginya, yang seakan mengisyaratkan perpaduan antara logam dan daging. sedikit ironis, dimana sang Metal Fetishist ini kemudian mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil. Dibunuh oleh mesin.
Ini adalah kebalikan dari cita-cita utopis transhumanisme, di mana alih-alih manusia menggunakan teknologi sebagai cara untuk memajukan kehidupan mereka, disini yang terjadi malah sebaliknya.
Tetsuo memaksakan perpaduan yang agak nyeleneh antara biologi dan teknologi melalui penggambaran seksualitas mengerikan yang muncul akibat terinfeksi virus Metal Fetishist. Pada satu adegan, penis Tetsuo berubah menjadi bor saat melakukan hubungan seks dengan sorang wanita. Sungguh mengerikan, untungnya film ini menggunakan lensa monochrome, ya walaupun mengurangi kenikmatan visual dari darah yang berceceran, meski begitu menjadikan film ini terasa sangat Industrial.
Menggabungkan visual sinema surealis dengan film-film milik David Cronenberg, David Lynch, dan sedikit nuansa gotik ala H.R. Giger, film ini memiliki sangat sedikit sekali dialog dan plot cerita yang cukup aneh. Sebuah sinema eksperimental yang mengerikan juga absurd. Selanjutnya, untuk practical effects pada film ini cukup oke sih gw rasa, dengan campuran tekno-industrial yang memusingkan, dengan gaya pengeditan video yang super cepet, cukup untuk membuat pengalaman sinematik yang unik.
Setelah menonton film ini, mungkin lo bakal berkata dengan kebingungan: "apa yang baru aja gw lihat". dan gw cukup bangga, gw menjadi salah satu orang yang mengalami hal itu.
Fakta bahwa film ini melahirkan dua sekuel lain adalah satu hal yang perlu diapresiasi.



Komentar
Posting Komentar