Mungkin disini ada sobat yang belum pernah denger tentang istilah Remake film.
Emang apaan sih sih remake itu?
Singkatnya, Remake dalam seni film adalah sebuah penggarapan ulang film yang masih ‘menghormati’ sumber asli daripada film tersebut. Terutama dari segi jalan ceritanya. Remake biasanya dilakukan pada film-film yang dulunya pernah laris dan menduduki box-office frenss. Tujuannya supaya bisa mengulang kesuksesan yang dulu pernah diraih. Bisa juga disebut sebagai langkah modernisasi sebuah film.
Satu contoh film remake adalah “The Day the Earth Stood Still (2008)”.
Film yang dibintangi oleh Keanu Reeves, dan Jeniffer Conelly. Film aslinya digarap oleh Robert Wise pada tahun 1951, dengan teknologi yang tentu saja masih sangat minim untuk film bergenre sci-fi pada zaman tersebut. Sehingga pada tahun 2008 Scott Derrickson membuat Remake dari film lawas tersebut dengan bantuan teknologi yang lebih modern.
Hal tersebut tentu saja gak melanggar hak cipta, dan boleh saja untuk dilakukan. tapi kita sebagai penonton yang sudah menonton film originalnya pasti jadi akan membanding bandingkan dengan film Remake tersebut, kan? bahkan pecinta 'Joker' Heath Ledger mungkin saja pernah kesal dengan akting Jared Leto sebagai Joker di film Suicide Squad, atau mungkin juga Joaquin Phoenix.
Tapi itukan persepsi, persepsi setiap orang memang berbeda, seperti gue ini yang merasa kalo film-film dibawah ini gak perlu di-Remake, Reboot atau apalah, karena menurut gue kalau di-Remake kualitas film ini jadi kurang esensial adanya, hehe. Apalagi kalau film tersebut gak bisa sebagus yang terdahulu.
Oke, gue rasa cukup ya intronya. Langsung aja deh, ini dia 10 film yang gak boleh di-Remake versi gue:
10. The Breakfast club (1985) John Hughes
Menceritakan tentang lima siswa yang terjebak di kelas yang sama dalam satu hari penuh. Bersama-sama, mereka akhirnya menyadari bahwa mereka bukanlah hanya sekedar 'criminal', 'athlete', 'basket case', 'princess' atau 'brain', mereka jauh lebih dari itu. Hal yang ingin diangkat dari film ini adalah apapun golongan kita, siapapun kita di sekolah, top or in bottom of the 'food-chain', kita semua memiliki masalah masing-masing.
"Film ini yang memiliki tempo santai, namun asik banget. Gue rasa masing-masing karakter dapet jatah yg pas di film ini, aktingnya juga bagus bagus. Mau bandingin sama film-film tema remaja era sekarang? silahkan aja, kalo menurut gue sih film ini lebih tontonable."
9. Fight Club (1999) David Fincher
Dibintangi oleh aktor dan aktris hollywood keren seperti Brad Pitt, Edward Norton, dan Helena Bonham Carter. Fight club sendiri merupakan film drama yang sukses jadi 'cult movie' yang pada eksekusinya film menghadirkan aksi-aksi gila dari karakter di dalamnya. Fight club terkenal berkat tokoh Tyler Durden yang diperankan oleh Brad Pitt. Karakter Tyler Durden yang bebas, liar, namun tetap berkharisma membuat film ini terlihat sangat maskulin menurut gue.
Gak ada film lain yang revolusioner, gila, dan membara seperti Fight Club. Selain merepresentasikan Anarkisme, serta mewakili keresahan generasi saat ini, adalah bagian twist yang menakjubkan yang disajikan. David Fincher benar-benar membawa kita pada alur cerita yang gak terprediksi, bahwa sebenarnya Tyler Durden adalah rekonstruksi diri dari sang narator.
8. A Clockwork Orange (1971) Stanley Kubrick
Alex (diperankan Malcolm McDowell) seorang remaja laki-laki yang menjadi pemimpin geng berandalan dengan nama 'droogs', mereka melakukan berbagai aksi kriminal yang mereka sebut ultra-violence. Berkelahi dengan gank lain, pemerkosaan, tindakan anarkis, dll. Hingga suatu saat dirinya ditangkap oleh polisi. Demi bisa keluar dari penjara dengan cepat Alex kemudian bersedia mengikuti pengobatan eksperimenal para dokter yang disebut 'Ludovico Technique', terapi tersebut bertujuan untuk mengubah Alex agar menjadi manusia yang lebih baik.
"Film yang bernaunsa Retro-Futuristik (setidaknya buat gue) yang keren. Artsy dan teatrikal abis, mengingat film ini dibuat awal tahun 70'an. Kayanya kalau dibuat Remake gak bakal dapet feelnya seperti film klasik ini. Selain dari segi cerita yang mungkin agak mengganggu bagi sebagian orang, disamping itu, ini juga bukan tipe film yg bisa dinikmati sambil santai-santai sepulang kerja."
7. Shawsank Redemption (1994) Frank Darabont

Mengambil set di tahun 1947, film ini dibuka oleh narasi Morgan Freeman yang memainkan karakter Red, seorang pria kulit hitam yang sedang menjalani hukuman di Penjara Shawshank. Film ini mengisahkan cerita Andy Dufresne (diperankan dengan apik oleh Tim Robbins), seorang bankir yang divonis hukuman penjara seumur hidup. Di malam ketika para Andy ini sampai di penjara, Red dan kawan-kawannya bertaruh 'siapa yang akan mati duluan karena tidak tahan kehidupan penjara'. Red pun memilih bahwa Andy yang tidak akan tahan, mengingat dia hanya seorang bankir kaya raya yang (bisa jadi) tidak kuat hidup di penjara. Tapi ternyata pilihannya keliru. Andy ternyata berhasil meloloskan diri dari penjara yang cukup ketat, dengan hanya bermodalkan palu kecil.
"Jujur aja, menurut gue gak akan ada ruginya menginvestasikan waktu dua jam kalian untuk nonton ini. Film ini hampir sempurna dari segala aspek. Jangan buang-buang tenaga buat mencari kekurangan dari film ini, gue rasa nyaris gak ada."
6. The Shinning (1980) Stanley Kubrick

Mengisahkan tentang Jack Torrance (Jack Nicholson) yang menerima pekerjaan barunya sebagai penjaga sebuah hotel terpencil bernama Overlook Hotel. dan kemudian ia pun mengajak istrinya, Wendy, beserta putranya, Danny. kemudian mereka tinggal di hotel tersebut selama beberapa bulan, namun sialnya hotel tersebut ternyata menyimpan rahasia kelam dan misterius di dalamnya.
"Sebagai film horror, sebenarnya adegan "horror" dalam film ini sendiri sangat amat minim. Gak ada adegan hantu mengamuk, atau adegan karakter yang dilempar kesana-kemari oleh iblis. Tapi letak esensi sebuah film horror yang sesungguhnya adalah bagaimana sang sutradara itu mampu membangun atmosfer kelam nan menegangkan. Dalam area inilah The Shining bermain."
5. Vertigo (1958) Alfred hitchcock
John 'Scottie' Ferguson, yang diperankan oleh James Stewart memutuskan untuk pensiun dini dari pekerjaannya sebagai detektif. disebabkan acrophobia, fobia terhadap ketinggian yang dideritanya beberapa bulan lalu disaat Ia menyaksikan rekannya jatuh dari sebuah gedung. Namun kemudian Scottie kembali menjadi detektif untuk menyelidiki istri dari temannya yang akhir-akhir ini bertingkah laku aneh, dan misterius.
Secara keseluruhan Vertigo tampil sangat solid. Hitchcock gak hanya mampu membuat sebuah kisah misteri yang mengusik rasa penasaran, namun juga pintar menempatkan penonton berada dalam posisi yang sama 'bingungnya' dengan karakter Scottie. Saat moment acrophobia si scottie muncul, Hitchcock menampilkan permainan kamera zoom-in zoom-out yang sangat cantik.
Hingga nanti menuju adegan akhir filmnya, sang sutradara memberikan sebuah jawaban mengejutkan yang akan ‘menampar’ telak penontonnya.
4. Taxi Driver (1976) Martin Scorsese
Bercerita tentang Travis Bickle (Robert de Niro), pemuda 26 tahun yang kesepian, mantan veteran perang yang menjadi supir taksi di New York. Travis yang hidup di kota yang sangat ramai justru merasa dirinya terasing dari kehidupan di sekitarnya. Travis kemudian berusaha mereka-reka jati dirinya, mencari tujuan dan pegangan hidup. Hingga kemudian ia bertindak semakin jauh sampai-sampai mempersenjatai dirinya dengan berbagai macam senjata, dan menjadikan kamar tidurnya arena latihan baginya. Tidak hanya disitu saja, ia pun mencukur rambutnya menjadi Mohawk ala 'Punk' sebagai sebuah simbol yang menandakan perlawanan dan pemberontakannya.."
Film ini menampilkan gambaran sosial masyarakat yang ada, terutama di tahun 1970-an. Karakter supir taksi (Travis) bisa kita anggap sebagai metafora kesepian yang memiliki semacam ironi. Bagaimana tidak, di kota yang ramai dan penuh hiruk pikuk, justru menjadi tempat yang paling sepi untuk seseorang seperti Travis.
3. Trainspotting (1996) Danny Boyle
Film yang diadaptasi dari Buku karya Irvine Welsh, Trainspotting menceritakan tentang sekelompok pemuda pecandu heroin di Edinburgh, Skotlandia, pada awal tahun 90-an. Tapi film ini bukan hanya sekedar tentang kecanduan narkoba, seks bebas, dan kekerasan. Namun juga menampilkan bagaimana jerih payah karakter utama Mark Renton (diperankan oleh Ewan McGregor) yang ingin keluar dari gaya hidup pecandu narkoba.
Bukan bermaksud lebay, tapi Trainspotting adalah salah satu film favorit gue sepanjang masa. Danny Boyle benar-benar membuat film klasik tentang pecandu narkoba. Meski film ini tidak mengagungkan heroin, tetapi apa yang dilakukan film ini adalah menjerumuskan para penonton ke dalam lingkungan bobrok yang mengerikan di mana heroin adalah satu-satunya jalan keluar.
2. SE7EN (1995) David Fincher

Se7en mengusung tema neo-noir crime thriller yang dibalut misteri dengan sangat apik. Cerita berfokus pada serangkaian pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang psikopat, namun sepanjang film ini lebih menonjolkan penyelidikan dua detektif dalam usahanya menangkap sang psikopat tersebut. Mills, seorang detektif pemula dan ambisius (diperankan oleh Brad Pitt), serta Somerset (Morgan Freeman), detektif veteran yang akan pensiun. Kevin Spacey pun bermain sangat bagus di film ini memerankan seorang psikopat dengan julukan John Doe.
Aksi dua detektif mengejar seorang psikopat di film ini sangat menegangkan walaupun kedua detektif ini selalu datang terlambat. Bagi kalian yang mengharapkan twist ending pastinya agak kecewa dengan ending film ini. Untuk ending film ini lebih pantas kalau kita sebut shocking ending.
Menurut gue se7en adalah salah satu film yang harus lo tonton sebelum lo mati!
1. Pulp Fiction (1994) Quentin Tarantino
Pulp Fiction bercerita tentang dua orang pembunuh bayaran, Vincent Vega dan Jules Winnfield yang masing-masing diperankan oleh John Travolta dan Samuel L. Jackson, seorang bos mafia (Ving Rhames), dan istrinya yang bernama Mia Wallace (Uma Thurman), seorang petinju bernama Butch Collidge (Bruce Willis), dan dua orang perampok kelas teri (Tim Roth & Amanda Plummer). Cerita di film ini dibagi dalam beberapa chapter baku seperti sebuah cerita dalam novel, atau cerpen.
Kalau kalian berharap Pulp Fiction layaknya film gangster atau mafia yang dipenuhi adegan perang senjata maha dahsyat, sayang sekali, Pulp Fiction tidak menawarkan itu. Sebaliknya pulp fiction adalah karya cerdas yang memperlihatkan dunia gangster dengan perspektif yang agak berbeda. Karakter karakternya sangat kuat, ikonik, dan dialog dalam film ini menurut gue sangat bagus. Pulp fiction tidak hanya diakui sebagai salah satu karya terbaik dari Quentin Tarantino, namun juga menjadi salah satu film Post-modern paling berpengaruh di dunia perfilman.
Kalau menurut kalian, film apa aja nih yang gak boleh di-Remake?
Komentar
Posting Komentar